^^(Lee Family) Don’t make me Worried^^

Aku lagi lagi mendesah kesal ketika membaca postingan akun Instagram dari kakak lelaki tercintaku yang beberapa waktu lalu berada di Hongkong dalam rangka menjalani konser SS5 mereka selama 3 hari. Aku sungguh tidak tahu bagaimananya untuk menasehati oppaku itu agar tidak terlalu memaksakan dirinya dalam bekerja. Jika tidak sanggup kenapa harus bilang sanggup? Ketika sedang sakit kenapa dia harus bilang sehat? Kenapa dia begitu? Kenapa tidak pernah mendengar kan kata kataku sama sekali.

Aku mengambil ponsel putihku lalu menghubungi nomor yang sudah kuhafal di luar kepalaku. Setelah menunggu beberapa saat aku mendengar suara lelaki yang, ah bagaimana aku menjelaskannya? Kedengaran pura pura baik baik saja, membuatku menghela nafas kesal karenanya.

“Where are you?” tanyaku langsung tidak ada sapaan tidak ada salam.

“Hei, can you say hallo first?”

“Don’t be stupid! I know you liying to me now, so tell me where are you now?” aku mendengarnya menghela nafas pasrah.

“SM.” Balasnya singkat. Aku menutup sambungan telponku tanpa menjawab apapun. Aku melangkahkan kakiku menuju parkir mobil yang berada di kampusku. Aku memang berada di kampus saat ini, aku sedang mengurus administrasi untuk ujianku awal bulan besok. Sebenarnya aku berniat untuk pulang namun akhirnya di gagalkan oleh berita yang di updet oleh kakakku sendiri. Dia sakit, dan aku sudah mengetahuinya sejak ia berangkat ke Sanghai kemarin. Aku sudah mengatakan jika jangan terlalu memaksakan diri, bukan hanya aku saja sebenarnya. Banyak ELF yang juga mencemaskan keadaan mereka sebenarnya, tapi tetap saja.

~~~~~~~~~

“Siang Ahjushi!” Aku membungkukkan tubuhku sopan di hadapan Ahjushi yang menjaga gerbang gedung yang sudah mengorbitkan oppadeul menjadi seorang idola yang benar benar terkenal saat ini.

“Siang Hana-ya. ingin bertemu Donghae atau Kyuhyun?” tanya Ahjushi itu lengkap dengan senyum jahil yang mengambang di bibirnya.

“Oh, Ayolah Ahjushi, jangan menggodaku lagi! Aku masuk dulu annyeong!” kataku melangkah masuk kedalam gedung yang memang sering aku kunjungi ini.

Aku berjalan ke ruangan yang di penuhi kaca yang ada di gedung ini. Aku yakin mereka sekarang sedang berada disana, mengingat dalam bulan besok mereka akan terbang lagi ke negara lain. Aku menemukan ruangan itu lalu masuk kedalam tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku memperhatikan kakakku yang sedang berlatih di depan sana. Dia sakit dan itu benar benar terlihat dari wajahnya yang mengeluarkan keringat. Aku berjalan kearah mereka tidak perduli dengan kenyataan mereka sedang berlatih saat ini, lalu menarik tangannya dan membawanya kesudut ruangan.

“Still working? You’r body is not good, do you know that? Look at your face Aiden. I think i see a vampire now. I dont see blood there. We going to the hospital know!” aku kesal, sangat kesal. Dia benar benar seperti mayat! Wajahnya pucat tidak ada sama sekali sinar dari wajah itu membuat hati ku sedih. Aku benci melihatnya sakit, aku benci melihat orang yang aku sayangi sakit, terlebih itu hanya karena pekerjaannya.

“Stop it Anggel i can do it, i can take care my self and don’t worried about me again.”Aku bisa mendengar nada jengkel keluar dari mulutnya, aku tahu dia kesal dan tidak suka aku datang tiba tiba dan menyeretnya ke rumah sakit. Tapi jujur saja, ini kali kedua ia mengeluarkan kalimat dengan nada seperti itu padaku, dan jujur saja itu sedikit membuatku kecewa.

“Bisa mengurus dirimu sendiri? Oh, ok i know you can! Kau bisa melakukan apapun yang kau mau! Kau selalu melakukan semuanya dengan alasan Profesional! But look! Kau menyakiti dirimu sendiri, kau menyakiti ELF dengan berpura pura sehat, dan kau membuat aku dan oemma khawatir padamu. Ok, i got it! Sekarang aku tidak akan khawatir lagi padamu, aku tidak akan mencemaskan mu lagi, dan kau bisa berbuat semaumu. Aku pergi.” Meledak, aku merasakan semuanya meledak hari ini. aku kecewa mendengar jawabannya. Aku mati matian mengkhawatirkan keadaanya sedang kan ia hanya berkata kalau dia bisa mengurus dirinya sendiri. Tidakkah itu menyebalkan? Oh demi Tuhan! Aku benar benar kesal padanya.

Aku menghapus air mataku kesal dan berjalan cepat kearah mobilku lalu melesat menuju apartemenku. Aku membencinya, tidak tahukah dia jika aku mencemaskannya? Aku tahu ini memang berlebihan, tapi aku tetap tidak bisa menahannya. Ini sudah kesekian kalinya dia seperti ini, dan aku juga sering sekali menasehatinya, tapi dia tetap tidak pernah mendengarkanku.

Aku hanya takut, takut apa yang terjadi pada appa juga terjadi padanya. Aku tidak mau kehilangan lelaki kesayanganku lagi. Memikirkan itu membuat dadaku sesak. Dia dan Donghwa oppa kakakku, tapi aku lebih mengkhawatirkannya dibanding Donghwa oppa. Kakakku yang sulung adalah yang paling dewasa di antara kami, dia tidak pernah membuat aku atau oemma khawatir berbeda sekali dengan Donghae oppa.

Oppaku itu baik, sangat baik. Dia kakak yang terbaik yang aku miliki di dunia ini. Hanya saja, terkadang ia tidak pernah peka terhadap dirinya sendiri. Ia sangat ingin membuat senang orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Setiap aku bertanya jawabannya hanya satu, Profesional. Dan kata kata itu terus saja terekam di otak ku sampai saat ini.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamarku yang terletak bersebelahan dengan kamar kakak ku. Sedikit ragu aku masuk kedalam kamar yang benuansa hitam putih itu. Aku tersenyum ketika melihat pigura besar berisi fotoku dan kakak lelakiku itu di didinding dashboard tempat tidurnya. Foto itu diambil ketika debut kakakku pertama kali, saat itu kami sedang berjalan jalan di lotte world sebagai perayaan debutnya pertama kali. Saat itu aku memang sengaja datang ke Seoul untuk berlibur, hanya seminggu kalau tidak salah. Setelah aku sampai di Mokpo tak lama appa sakit dan terus keluar masuk rumah sakit. Aku ingin memberitahukan pada oppa mengenai hal itu. tapi appa selalu melarang dengan alasan takut memecah konsentrasi oppa.

Saat itu aku pernah mendengar appa meminta telpon genggam yang mempunyai aplikasi televisi untuk melihat oppaku yang sedang berja. Oppa membelikannya, tapi tak lama appa pergi dan oppa baru tahu keesokan harinya. Appa sakit, awalnya appa sering bilang jika ia kelelahan, tapi makin lama makin fatal akibatnya. Aku berjalan lagi memutuskan untuk berbalik kekamarku sendiri. Hari ini cukup melelahkan dan aku memilih untuk beristirahat setidaknya untuk sebentar.

~~~~~~~~~

Aku terbangun dari tidurku ketika mendengarkan ponselku berbunyi nyaring tepat di sebelahku. Sedikit bingung ketika melihat nama Hyukjae oppa yang tertera disana. Aku mengusap layar ponselku untuk menerima panggilan itu.

“Yeoboseyo?”

“Hana-ya, bisa kerumah sakit Seoul sekarang? Donghae pingsan setelah latihan tadi.” Blank. Nyawaku yang tadinya masih berpencar sekarang berkumpul menjadi satu. Aku mengambil jaketku dan juga ponsel sekaligus dompet dan kunci mobilku. Tidak memperdulikan aku hanya memakai celana pendek dan jaket tipis yang menutupi kaus lengan pendek milikku aku melesat ke rumah sakit tempat oppaku di rawat yang sebelumnya sempat di katakan oleh Hyukjae oppa tadi.

Sesampainya disana aku melihat banyak ELF yang meneriakkan nama oppaku. Mereka khawatir tentu saja. Aku ingin masuk namun salah seorang dari mereka menahan tanganku.

“Onnie, aku mohon sampaikan salam kami untuk Donghae oppa, katakan untuk cepat sembuh dan jangan memaksakan dirinya lagi.” Aku tersenyum kemudian mengangguk dan menghapus air mata yang mengalir di wajah gadis itu.

“Ne, onnie akan menyampaikannya. Lebih baik sekarang kalian pulang, ini sudah larut malam. Aku akan menjaga Donghae oppa engan baik. Ok?” gadis itu terlihat berfikir sejenak namun mengangguk patuh. Aku tersenyum kemudian melangkahkan kakiku kedalam rumah sakit.

“Lee Donghae di rawat dimana?” tanyaku cepat.

“Kamar 348.” Kata perawat sambil tersenyum kearahku. Aku menghentikan langkahku di depan pintu itu berusaha menenangkan diriku sendiri. Setelah yakin aku masuk kedalam dan disambut oleh wajah oppadeul yang menatap cemas kearahku.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku kemudian duduk di sofa yang ada di sana.

“Sudah lebih baik. Badannya panas, tapi sekarnag sudah lebih baik. Dokter bilang Magg dan Anemia nya kambuh serta dia juga kelelahan jadi mungkin setelah istirahat dia akan baik baik saja.” Jelas Hyukjae oppa menenangkanku.

“Baguslah.” kataku datar.

“Kau masih marah?” tanya Kyuhyun yang sekarang duduk di sebelaku sambil merangkulku hangat.

“Aku tidak marah padanya, hanya kecewa.”

“Hana-ya, kami harus pergi sekarang, kami semua masih ada jadwal lain.” Aku mengangguk maklum pada Kangin oppa yang menatapku tak enak.

“Gwenchana, aku bisa menunggunya disini.” Jawabku tersenyum. Aku melihat Kyu berjalan ke arah ia meletakkan tasnya kemudian mengeluarkan jaket nya.

“Bajumu tipis, pakai jaket ini setidaknya bisa membuatmu sedikit hangat.” Katanya sambil memakaikan jaket itu padaku.

“Baiklah, jaga dirimu. Jika ada massalah hubungi kami.” kata Hyukjae oppa kemudian pamit.

“Jangan terlalu lelah.” Kataku pada Kyu kemudian mengecup bibirnya sebentar. Ia mengangguk dan berjalan mengikuti oppadeul yang sudah lebih dulu keluar.

~~~~~~~~~~~

Aku membuka mataku ketika merasakan tangan orang yang sudah beberapa jam ini tertidur bergerak mengusap kepalaku lembut.

“Kau bangun?” tanyanya lembut. Aku hanya diam dan mengangguk.

“Masih marah?” tanyanya lagi.

“Hanya kecewa.” Jawabku singkat.

“Maaf.” Aku menutup mataku kemudian menghela nafas panjang.

“Entahlah oppa, ini sudah kesekian kalinya. Selalu saja seperti ini, aku menyayangimu seperti aku menyayangi Donghwa oppa. Tapi aku tidak akan pernah mencemaskannya setiap hari seperti aku mencemaskanmu.”

“Awalnya appa juga sepertimu. Dia bilang jika ia tidka apa apa, dia bilang jika dia hanya kelelahan. Tapi ternyata? Ia bergi begitu saja seminggu setelah aku kembali dari tempatmu. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Aku tidka ingin kehilangan lelaki kesayanganku lagi. Cukup sekali, dan aku tidak ingin lagi. Aku kira kau mengerti, tapi ternyata tidak. Kau sering sekali melupakan waktu makanmu padahal kau punya penyakit magg, kau melupakan vitaminmu padahal kau punya penyakit anemia.”

“Jika aku ingat kau kau hanya akan bilang. Stop it Anggel I can do it my self, or I can do it dont Worried of me. Aku tidak akan seperti itu jika kau mau mendengarkan kata kata oemma, oemma terlalu tua untuk selalu khawatir. Karena itu, aku mohon, aku mohon, tolong jaga kesehatan mu sendiri oppa-ya, aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi.” Air mata itu lagi lagi mengalir tanpa bisa aku kendalikan sama sekali. Hingga tanganku menarikku kedalam pelukan hangat yang selalu ada untukku.

“Aku akan menjaga kesehatanku, aku tidak akan sakit lagi. Aku janji.

END

 

 

Advertisements

4 thoughts on “^^(Lee Family) Don’t make me Worried^^

  1. Ade’ yang baik, selalu menghawatirkan kakaknya.
    Gimana gak sakit kalau orang kerja sudah seperti robot. *PoorHaeOppa 😦

    • sebenarnya ini semua murni kekesalanku sama mereka semua.
      tapi berhung kemarin Hae yang bilang kalau dia sakit jadi akhirnya aku bikin ini.
      Suka g habis fikir, apa sih yang dicari sebenarnya? Duit, ayolah, gak segitunya jugakan? bisakan istirahat sebentar?
      mereka itu manusia bukan robot.
      mereka harusnya bisa mikirkan dalam mengambil pekerjaan?
      kadang suka mikir, ini SM yang salah apa emang oppadeul yang terlalu baik??
      *Curhat*

      makasih udah mampir yah^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s