^^(Lee Family) Mianhae~ (part 3/?)^^

Hana POV

“Ya! Hana-ya! kau mau membawaku kemana malam malam begini huh??” Serunya kesal. Aku berhenti kemudian menatapnya dengan pandangan memohon.

“Aku mohon, temani aku ke dorm Super Junior” gadis yang dari tadi aku seret seret ini hanya memandangku kaget namun aku tidak perduli. Lagi lagi aku menarik tangannya menuju mobilku.

Selama di perjalanan tidak ada sama sekali yang berniat membuka percakapan baik aku ataupun gadis di sebelah ku ini. Aku sibuk merutuki diriku sendiri yang bodoh, sedangkan Diera sibuk sendiri dengan lamunannya. Sesampainya di apartemen itu aku langsung mematikan mesin mobilku lalu berjalan ke tempat member Super Junior tinggal. Aku menggenggam erat tangan Diera berusaha menguatkan diriku sendiri. Berusaha meyakinkan diriku jika keputusan yang aku ambil benar.

“Apa yang harus aku katakan Ra-ya?” tanyaku lirih. Diera hanya menatapku sebentar kemudian mencengkram bahuku dan menarik tubuhku menghadapnya.

“Kau tidak harus bingung dengan apa yang akan kau katakan onnie-ya, Katakan saja apa yang ada di hatimu, dengan begitu apa yang seharusnya kau katakan akan mengalir dengan sendirinya. Untuk kali ini hilangkan ego mu dan gunakan hatimu dengan baik.” Kata gadis yang sudah aku anggap adik ku itu tenang. Aku tersenyum kemudian menekan bel yang terpasang di samping pintu bercat coklat di depan ku ini.

“Nuguseyo?” Aku mendengar suara orang dari dalam. Aku bingung ingin berkata apa, hingga akhirnya Dieralah yang mengambil alih.

“Andiera imnida, aku ingin mencari Donghae oppa apakah ada?”

“Ada, tunggu sebentar” jawab orang itu ramah. Diera hanya menatapku penuh arti sambil tersenyum.

“Fighting!! I believe you can do it!!” Katanya sambil mengepalkan tangannya kemudian mengangkatnya ke udara. Aku tersenyum kemudian  mengangguk pasti.

“Ah! Kau! Bukankah kau Hana adik Donghae hyung? Mau apa kau kemari? Ingin memaki oppa mu lagi?” tanya namja pendek yang ada di depanku ini sinis.

“Ryeowook oppa, Donghae oppa ada? Kami ingin membicarakan hal penting padanya” kata Diera berusaha mencairkan keadaan tegang yang tercipta antara aku dan namja pendek di depanku ini.

“Ada, silahkan. Dia ada di kamarnya. Sebentar aku panggilkan dia dulu.” katanya sambil mempersilahkan kami masuk. Aku menyadari orang orang di ruangan ini yang menatap ku penuh arti, aku hanya bisa menatap mereka datar kemudian kembali dengan fikiran ku sendiri, tidak memperdulikan pandangan mereka terhadap diriku.

“Siapa Wookie-ah? Aku sedang tidak berniat menerima tamu!” aku kembali tersadar begitu mendengar suara yang berusaha aku lupakan selama beberapa tahun ini.

“Hana-ya, kau?” kata katanya berhenti begitu aku berlari dan menyusup masuk ke dalam pelukan hangat namja yang ada di depanku ini

“Mianhae, jeongmal mianata oppa-ya” kataku terisak. Aku tetap membenamkan wajahku di dada bidang orang yang dulu merelakan dirinya sendiri untuk kebahagiaanku walaupun ia sama sekali belum membalas pelukanku. Perlahan aku bisa merasakan tangannya terangkat dan membalas pelukanku, awalnya hanya pelan namun makin lama ia makin mempererat pelukannya hingga aku bisa merasakan nafasku sesak. Aku tidak perduli yang aku inginkan sekarang adalah pelukan oppaku, hanya oppaku.

“Nado mianata Hana-ya. Maaf kan aku karena sudah membuatmu menderita karena salah faham selama ini. Aku tidak ingin kau di sakiti oleh wanita itu, karena itu aku memilih untuk menyerahkan diriku sebagai pengganti dirimu. Aku tidak ingin kau terluka sayang, hanya itu. Dan ternyata keputusanku itu malah membuatmu semakin terluka lagi. Maaf, maafkan aku.” Aku merasakan leherku basah karena air matanya. Ia melepaskan pelukannya kemudian menangkup pipiku dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

“Apa pipimu masih sakit?” tanyanya lembut sambil mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Aku menggeleng kemudian tersenyum tulus pertama kalinya selama belasan tahun ini

“Ne gwenchana. Nanti juga sembuh” kataku lirih. Aku bisa melihat kecemasan di matanya perlahan memudar. Ia tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengecup bibirku pelan.

“Bogoshipo~” katanya setelah melepaskan bibirnya.

“Nado” kataku tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya kearah gadis yang tadi bersamaku. Ia melepaskan tangannya dari bahuku kemudian berjalan kearah gadis itu dan memeluknya sebentar.

“Terimakasih Diera-ya. aku benar benar berterima kasih karena kau mau membawa adikku kemari. Jeongmal khamsahamnida” kata oppaku sambil memeluk gadis yang sekarang matanya membulat sempurna itu.

“Mmm… ne oppa…. Sama sama.” katanya pelan. Aku hanya terkekeh pelan melihat reaksi anak itu.

“Hyung! Hari ini bolehkah Diera dan Hana menginap disini saja?” kata oppaku pada orang yang berambut pirang di depannya.

“Ne tentu saja, nanti aku bisa tidur di sofa depan dan Hyukie bisa tidur di kamar Siwon” kata namja itu.

“Aniyo, aku pulang saja,kasihan oemma sendiri di rumah.” Aish! Aku melupakan oemma, aku bahkan belum izin sama sekali tadi.

“Bahta! Aku lupa! Kita juga belum izin!” kataku sambil menepuk jidatku.

“Kau menginaplah disini, biar aku yang pulang.” Kata Diera memberi ide

“Biar aku yang mengantarkannya pulang.” kata namja yang seingatku bernama Kyuhyun itu.

“Baiklah kalau begitu, hati hati di jalan” kata Donghae oppa.

~~~~~~~~~~~

Sudah dua minggu hubungan ku dengan oppaku membaik, benci yang ada untuknya dulu sekarang sudah mengilang dengan sendirinya, seiring dengan kenyataan yang aku ketahui. Hanya dengan oppa, tetapi tidak dengan orang yang menyebut dirinya appaku. Hari ini adalah masa tenggang yang mereka janjikan untuk melunasi segala hutang piutang mereka pada perusahaanku. Tapi menurut orang kepercayaanku mereka sama sekali tidak bisa membayar semua tagihan itu, dan hal itu justru membuatku merasa senang karena tujuan utamaku untuk melempar mereka semua kejalanan akan segera terwujudkan.

“Ahjushi, antarkan aku ke rumah keluarga Lee.” kataku tegas pada supirku. Pria paruh baya yang sudah berpuluh puluh tahun menjadi supir di perusahaan ku ini mengangguk dan mulai menjalankan mobil audi hitam milikku ke rumah yang sebentar lagi akan berpindah nama menjadi atas namaku. Setelah dua puluh menit akhirnya aku sampai di rumah tempat pria yang dulunya pernah aku sayangi itu tinggal bersama selingkuhannya hingga mereka menghasilkan anak dari hubungan laknat itu. Aku turun dari mobil begitu salah seorang anak buahku membukakan pintu untukku.

Aku berjalan dengan langkah tegas, terkesan sombong dan angkuh, tidak memperdulikan tatapan tajam pelacur yang menyebabkan keluargaku hancur seperti saat ini. Aku berhenti di depan wanita itu kemudian melepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi membingkai mata coklat milikku.

“Annyeonghaseo Ny. Lee, perkenalkan Lee Hana imnida. Aku rasa kau mengenalku dengan sangat baik bukan? Bagaimana?Apa kau sudah memnbereskan semua barang barangmu?” tanyaku dengan senyum mengejek yang jelas terpampang di wajahku.

“Kau!” Serunya murka. Aku hanya mentapnya datar dan berjalan mendekati seorang pria tua yang menatapku tidak berkedip. Ada rasa bahagia, kecewa dan menyesal dari matanya yang membuat diriku muak.

“Hai appa! Apa kabarmu hari ini? Aku lihat kau semakin tua saja. Itu bagus, dengan begitu aku tidak pelu repot repot mengotori tanganku untuk menyingkirkanmu agar kau menyusul oemmaku ke alam sana.” kataku dingin. Aku menyuruh anak buahku untuk melempar semua barang barang mereka kejalanan, tapi sebuah tangan hangat dan besar menahannya.

“Hana-ya, ada apa ini?” suara itu, aku menyuruh anak buahku berhenti dan membalikkan tubuhku mengahadap orang yang tadi berani menghentikan tindakanku ini. Di belakangnya aku melihat seorang gadis berumur sekitar 15 sampai 16 tahun. Aku tersenyum sinis kemudian mendekat kearahnya.

“Kau, Lee Hyurin?” tanyaku dingin. Ia mengangguk sambil menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh oppaku.

“Lepaskan tanganmu dari oppaku.” desisku pelan. Ia mengeleng tidak mau melepaskan tangannya.

“Aku bilang LEPAS!!” seruku kasar. Aku tidak suka tangan itu dengan leluasa memeluk lengan oppaku.

“Kau dan ibumu pantas menerima hal ini Hyurin-si! Kau! Karena kau dan ibumu aku kehilangan keluarga yang aku cintai! Dan karena kalian aku kehilangan oemmaku! Dan sejak aku berumur 5 tahun, aku bersumpah akan membuat hidup kalian menderita. Dan ini hanya awal dari semuanya, jadi aku harap kau bisa menikmati semua permainan yang aku ciptakan.”

“Cukup Hana-ya! Hyurin sama sekali tidak tahu apa apa tentang hal ini, hanya kita yang mengetahuinya. Tolong jangan libatkan dia dalam masalah ini.” kata Donghae oppa membuatku terdiam.

“Hana-ya, appa mohon jangan lakukan hal ini pada kami, appa tahu appa bersalah, jebal jangan usir kami dari sini.” Aku merasakan namja tua itu memeluk kakiku erat. Sakit, sungguh sakit melihat orang yang pernah kau cintai, terlebih dia appa kandungmu besujud dan memeluk kakimu memohon ampun seperti ini. Tapi rasa benci dan rasa sakit hatiku lebih besar dari rasa sayang itu. Aku menyentakkan kaki ku kasar kemudian berbalik dan bejongkok di hadapannya.

“Kau tahu Tn. Lee, dulu oemmaku juga pernah melakukan hal ini bukan? Memohon agar kau tidak membawa salah satu dari kami, memohon agar kau tidak meninggalkannya untuk pergi bersama pelacur itu. Tapi apa? Kau sama sekali tidak memperdulikannya dan tetap membawa oppaku pergi dariku. Hingga oemma mati di hadapanku, meninggalkan aku sendiri tanpa seorangpun disisiku. Membuatku buta akan keluarga, membuatku buta akan kasih sayang dan cinta. Membuat seorang anak berumur 5 tahun mengerti apa arti kebencian dan dendam. Aku rasa aku sudah cukup berbaik hati padamu tuan, karena aku tidak mempercepat kematianmu. Aku hanya akan menggunakan anak kalian yang  cantik ini untuk membalaskan semua rasa sakit hatiku.” Kataku datar kemudian melangkah pergi dari sana, namun aku berhenti dan berbalik.

“Ah! Aku punya ide, bagaimana jika kalian tetap tinggal di rumah ini? Tapi hanya sebagai pelayan bukan pemilik rumah lagi. Dan kau!” kata ku mengarahkan telunjukku pada anak haram lelaki bejat itu dengan pelacurnya, yang saat ini sedang berdiri takut di belakang tubuh kakak lelakiku.

“Akan tinggal bersamaku, aku juga melarangmu berhubungan dengan orang tuamu, apapun alasannya. Jangan sampai aku mendengar salah satu dari kalian lari, atau kalian akan mendapatkan hal yang lebih menyakitkan dari pada ini.” Lanjutku kemudian pergi dari tempat itu.

Donghae POV

“Hyurin-ah, kau baik baik saja?” tanyaku pada adik tiriku yang sedang menunduk menahan tangis.

“Dia? Hana onnie?” Tanyanya parau. Aku mengangguk dan tiba tiba ia memelukku erat dan membenamkan wajahnya di dadaku.

“Aku tidak menyangka ia sebenci itu pada oemma dan juga aku, Aku harus bagaimana oppa?” tangis Hyurin pecah di dalam pelukanku. Aku hanya mengusap rambutnya lembut dan memeluknya erat.

“Hana sebenarnya adalah orang yang baik dan lembut Hyurin-ah, itu hanya cara agar ia bisa melindungi dirinya sendiri, dan oppa yakin ia akan bisa melupakan rasa bencinya padamu karena pada dasarnya kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini” kataku menenangkannya. Aku melihat pria tua yang menyebut dirinya ayah ku – yang sesungguhnya sangat tidak pantas di panggil seperti itu- dan pelacurnya yang menatapku dengan tatapan memohon.

“Kalian pantas menerimanya! Hyurin akan ikut dengan ku dan Hana mulai sekarang! ” kataku dingin kemudian masuk ke dalam rumah untuk membereskan barang barang adikku.

~~~~~~~~~~~~

“Sudah di bereskan semua?” tanyaku pada Hyurin yang sedang menarik pegangan koper biru miliknya yang berisi pakaian dan juga barang barang keperluan sekolah nya. Ia mengangguk tapi kemudian tatapan tidak nyaman itu kembali menghujam ke dalam manik mataku.

“Oppa, apakah tidak apa jika aku tinggal dengan mu dan Hana onnie?” Tanya Hyurin lagi. Aku tersenyum lalu menepuk kepalanya lembut.

“Hana itu gadis yang baik Rin-ah, lagipula kau tidak sendiri disana. Akan ada aku nantinya, aku bisa menjagamu jika seandainya Hana berbuat yang aneh aneh. Kau percaya pada oppa kan?” Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk pelan. Aku tahu ia masih belum bisa yakin sepenuhnya. Tapi aku akan berusaha menjaganya selama ia tinggal bersamaku dan Hana.

Hyurin POV

Aku melihatnya, aku bertemu dengannya. Tapi reaksinya tidak seperti yang aku harapkan selama ini. Aku selalu mendengar tentang Hana onnie dari Donghae oppa, bagaimana dia, seperti apa dia, apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka. Aku sangat ingin bertemu dengan kakak tiri ku itu, membuatku selalu bertanya pada Donghae oppa apakah ia sudah bertemu dengan onnie atau belum. Beberapa hari yang lalu kakak laki laki ku itu bercerita jika ia sudah bertemu dengan adik kandungnya. Saat itu aku berfikir aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kata kata yang keluar dari mulut oppaku setelahnya membuat dadaku bergemuruh hebat.

“Dia membenciku, dia ingin menghancurkan appa dan juga oemma mu Hyurin-ah, dia juga ingin menghancurkanmu.” Saat itu aku tahu jika semua keinginan yang ada di dalam diriku hancur sudah. Sampai hari ini aku benar benar bertemu dengannya, dan akhirnya aku melihat nya sendiri dengan mata kepalaku. Seorang anak yang di khianati oleh ayah nya sendiri, seorang anak yang mempunyai dendam pada sang ayah, aku melihatnya.

Tatapan matanya yang tajam benar benar membuat nyaliku ciut tak berbekas. Ini bukan salahnya sama sekali, semua ini karena ibuku yang menarik perhatian appa dan membuat ia meninggalkan keluarganya begitu saja. Jika aku berada di posisinya mungkin aku akan lebih membenci mereka dari pada apa yang dilakukan oleh Hana onnie pada ku. Aku menginjakkan kakiku di sebuah rumah mewah milik adik dari kakak lelaki ku. Sempat bertanya tanya bukankah Hana onnie tinggal di apartemen?

houghtonZM_01 houghtonZM_03

“Ini rumah Hana, kita bertiga akan tinggal disini. Hana menyerahkan apartemennya kepada sahabat baiknya untuk di tempati.” Aku mengangguk mendengar keterangan yang di berikan oleh oppaku tanpa perlu bertanya terlebih dahulu.

Perlahan aku berjalan mengitari rumah itu. Cantik, itu kesan pertama ketika aku masuk ke ruang tengah. Rumah ini didirikan di atas tanah yang memiliki kontur tanah tak rata. Hal ini membuat taman yang berada di area depan rumah mendapat posisi ketinggian yang lebih rendah dibanding pintu masuk rumah. Jadi, untuk mencapai pintu utama kita harus sedikit berolahraga dengan berjalan menanjak.

houghtonZM_12 houghtonZM_11 houghtonZM_09 houghtonZM_10

Untuk desain interiornya, rumah ini memiliki tangga spiral putar berwarna putih yang sangat cantik dan menarik perhatian. Hal ini dikarenakan pembatas tangganya yang terbuat dari bahan gelas atau kaca sehingga membuat penampilan dari tangga ini menjadi terlihat semakin modern. Di area sekitar tangga aku bisa menemukan sebuah ruang tamu besar yang bersebelahan langsung dengan taman, kolam renang dan ruang tamu eksternal.

houghtonZM_06 houghtonZM_07 houghtonZM_08 houghtonZM_05

Antara ruang tamu eksternal dengan ruang tamu internal hanya dipisahkan dengan pintu kaca geser yang besar. Pintu kaca dan jendela-jendela besar yang berada di keseluruhan rumah membuat rumah ini jadi tampak terang benderang dengan aliran cahaya matahari yang mengalir bebas di siang hari. Selain itu sirkulasi udara yang sangat lancar menyebabkan rumah ini jadi terasa sejuk dan menyehatkan.

houghtonZM_16 houghtonZM_13

 

Di bagian utara tangga juga terdapat sebuah ruang makan disertai dapur yang dominan dengan warna putih dipadukan dengan furniture warna abu-abu dan hitam mengkilap. Selain itu terdapat kursi berwarna merah marun untuk menghilangkan kesan monoton di dapur mewah ini. Fasilitas lainnya yang dapat dinikmati pada rumah mewah ini antara lain adalah kamar tidur mewah, kamar mandi, ruang kerja, ruang keluarga, ruang bermain khusus dan sebuah ruang gym.

houghtonZM_14 houghtonZM_15 houghtonZM_17 houghtonZM_18

Desain interiornya kebanyakan menggunakan kerangka baja hitam dipadukan dengan dinding kaca termal yang berfungsi menahan panas dari sinar matahari yang masuk. Sebagian besar komponen rumah menggunakan lantai marmer putih yang mengilap sehingga membuat rumah ini tampak terlihat bersih, sangat mewah sekaligus modern.

“Waw!” lirihku takjub, masih tidak percaya dengan apa yang ada di depanku saat ini. Rumah ini lebih mewah dan lebih besar dari pada rumah yang selama ini aku tempati. Tapi perlahan kekagumanku perlahan berubah menjadi ringisan kecil jika melihat ukuran rumah ini dan kondisi Hana onnie yang sendiri, ia pasti merasakan kesepian hidup di tempat ini.

“Kau suka?” Aku mengangguk begitu mendengar suara Donghae oppa yang ada di belakangku.

“Rumah ini indah sekali.” kataku sambil membalikkan tubuhku dan memasang senyum lebarku.

“Ayo kuantar kekamarmu.”

Aku melangkahkan kaki mengikuti langkah Donghae oppa yang berjalan lebih dahulu membawakan barang barangku. Kami sampai di lantai dua rumah ini, dari sini aku bisa melihat pemandangan luar karena dinding dinding rumah ini yang memang sengaja di rancang dari bahan kaca.

houghtonZM_Hyurin

“Ini kamarmu, aku harap kau bisa betah di rumah ini. Jika perlu sesuatu, kau bisa katakan padaku atau pada pelayan.” Kata Donghae oppa sambil mengacak rambutku lembut. Aku tersenyum kemudian memeluk kakak lelaki ku ini erat.

“Kau tahu oppa? Aku benar benar berharap Hana onnie bisa memperlakukanku sebagai adiknya.” Lirihku dalam pelukannya.

~~~~~~~~~

Author POV

Hana menatap pemandangan danau pribadi yang terhampar luas di hadapannya saat ini dengan perasaan campur aduk. Gadis itu menghembuskan nafas berat ketika kepala pelayannya menyampaikan laporan yang sebenarnya sudah ia tunggu.

“Nona, Tuan Muda dan Nona Muda Lee sudah datang, dan sekarang Tuan muda sedang mengantarkan Nona muda ke kamarnya.” Lapor sang kepala pelayan pada gadis itu.

Hana membenci anak itu, dan itu tidak perlu di pertanyakan lagi. Tapi di satu sisi gadis itu juga sadar jika Hyurin sama sekali tidak ada hubungan dengan dendam yang Hana tanamkan selama ini di hatinya. Bahkan menurut kakak laki lakinya Hyurin amat sangat ingin bertemu dengan gadis itu, bermain bersamanya, bersikap seperti adik kakak pada umumnya. Tapi tidak, Hana tidak bisa. ‘Walau bagaimanapun ibu dari gadis itu yang membuat ibuku meninggalkanku begitu saja.’ bisiknya menguatkan hatinya sendiri.

Kening gadis itu berkerut begitu saja ketika merasakan getaran yang berasal dari ponsel yang saat ini ada dalam genggaman tangannya. Senyum yang sudah beberapa hari ini tidak terlihat di bibir gadis itu mengambang begitu saja ketika melihat nama penelpon di ujung sana, lalu dengan cepat ia mengusap tanda hijau di ponselnya untuk menerima panggilan itu.

“Ya Lee Hana-si! Kau dimana huh? Oemma selalu menanyakan keadaanmu padaku! Oemma khawatir kau tahu!” seru seorang gadis tanpa basa basi sama sekali, membuat Hana menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Ya nona Kim! Kau ingin membuat gendang telingaku pecah huh? Pelankan suaramu! Aku tidak tuli!” balas gadis itu sambil melangkah kedalam rumah.

“Ck! Aku ada di gerbang sekarang! Suruh anak buahmu menjemput ku dan oemma!” balasnya masih sedikit berteriak.

“Arraseo! Ck, menyusahkan!” kata Hana lalu menutup panggilan itu begitu saja dan langsung menyuruh anak buah nya menjemput Eomma dan adik angkatnya di depan. Gadis itu duduk di sofa ruang keluarga yang langsung berhadapan dengan kolam renang sambil memainkan ponselnya memeriksa harga saham. Gadis itu sengaja membangun rumah ini karena suka dengan desainnya yang sangat mewah, namun memiliki konsep terbuka. Gadis itu hampir tenggelam dengan kesibukannya hingga sebuah suara mengejutkannya.

“Ya! Onnie! Kalau membuat rumah setidaknya jarak jalan dan rumah jangan begitu jauh! Kau kira oemma masih muda dengan teganya kau suruh berjalan sejauh itu! Dasar tidak punya hati!” Serunya kesal yang langsung mendapat jitakan yang cukup keras dari sang ibu, membuat Hana tertawa keras. Tawa yang selama ini tidak pernah di perlihatkannya kepada orang lain. Dan di saat yang sama Hyurin dan juga Donghae sedang memperhatikan gadis itu dengan raut wajah terkejut yang sama sama terpancar dari wajah mereka.

‘Seorang Lee Hana tertawa? Itu keajaiban’ fikir mereka.

“Oemma!” Seru gadis yang di pukul tadi tidak terima, lalu menundukkan kepalanya sambil menrengut kesal ketika mendapati mata sang ibu yang menyuruhnya diam.

“Rasakan itu!” kata Hana masih tertawa. Membuat Diera yang masih memberengut kesal menatap gadis itu dengan pandangan mengancam, yang jelas jelas di acuhkan begitu saja oleh Hana.

“Bagaimana kabarmu sayang? Oemma mengkhawatirkanmu. Kau tidak menghubungi rumah sama sekali, kau juga tidak masuk kuliah selama beberapa hari ini. Apa kau baik baik saja? Kau sehat?” tanya Nyonya Kim sambil mengusap pipi gadis yang sudah di anggapnya anaknya sendiri lembut, membuat gadis itu merasakan kasih sayang ibu yang dari kecil sudah di renggut paksa dari nya.

“Aku baik baik saja oemma. Aku sehat, hanya sedang sibuk mengurus perusahaan beberapa hari ini. Oemma juga sehat kan?” katanya kemudian memeluk wanita paruh baya itu erat.

“Oemma sehat sayang, sangat sehat.” Katanya membalas pelukan gadis itu kemudian mengusap punggungnya lembut.

Hyurin yang melihat semua itu mencengkram ujung bajunya keras ketika membayangkan bagaimana kakak tirinya itu hidup selama ini sendiri, bagaimana Hana mengacuhkan rasa kesepian yang selama ini selalu ada di sekelilingnya. Dia sama sekali belum pernah melihat kakak tirinya itu tertawa begitu ringan karenanya, dan ia benar benar iri karena itu. Donghae yang melihat reaksi Hyurin hanya bisa mengusap lembut puncak kepala adik tirinya itu lembut.

“Mana adikmu Hana-ya?” pertanyaan itu membuat Hana yang masih tersenyum mendadak merasa kaku.

“Dia bukan adikku oemma, berhenti memanggilnya adikku. Adikku hanya gadis bodoh yang lahir dari rahimmu ini.” kata gadis itu melirik Diera yang duduk di sebelahnya sekarang. Lagi lagi jawaban itu menjadi bumerang yang sangat menyakitkan bagi gadis yang saat ini sedang berada di tangga paling atas rumah itu.

“Oemma, Diera-ya!” Suara itu membuat ketiga orang yang ada di ruang tengah itu menoleh ke arah sumber suara. Disana terlihat Donghae beserta seorang gadis muda yang bisa di tebak sekarang baru saja mengenyam bangku High School. Melihat itu membuat Diera dan ibunya gelisah, takut jawaban Hana di dengar oleh gadis itu, berbanding terbalik dengan Hana yang sekarang menatap gadis itu dingin.

“Kapan oemma sampai? Kenapa tidak menghubungiku, aku pasti akan menjemput kalian.” Kata Donghae memecahkan kecanggungan yang tercipta tiba tiba di antara mereka.

“Oemma baru saja sampai Donghae-ya.” Kata Nyonya Kim kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedari tadi berdiri di belakang pria itu sambil mencengkram ujung kaus yang di pakai oleh pria itu.

“Ini adikmu Donghae-ya? tidak berniat mengenalkannya pada oemma?” tanya nyonya Kim tidak perduli tatapan membantah Hana yang di tujukan padanya.

“Oemma tidak mau di bantah Hana-ya!” Kata nyonya Kim kemudian menarik lembut Hyurin dari balik tubuh kakak lelakinya.

“Siapa namamu sayang?” tanya Nyonya Kim lembut. Gadis itu menatap Nyonya Kim namun tak lama tatapannya beralih pada Hana yang sekarang sedang memandangnya tajam dan dingin tanpa ekspresi sama sekali, membuat gadis itu lagi lagi menunduk.

“Lee Hyurin, Ahjumma.” Lirih gadis itu. Nyonya Kim tersenyum kemudian mengusap puncak kepala gadis itu lembut.

“Aku harap setelah semua ini selesai, kau bisa memanggilku oemma seperti onnie dan oppamu memanggilku.” Kata nyonya Kim membuat semua orang di dalam ruangan itu tersentak.

“Kita lihat saja nanti oemma.” Kata Hana tanpa ekspresi sama sekali, membuat semua orang di ruangan itu kecuali Nyonya Kim meneguk ludah kasar. Diera hendak angkat suara namun gadis itu kembali menelan bulat bulat kalimatnya ketika salah satu anak buah Hana datang.

“Nona, aku mendapat laporan jika Nyonya Lee bersikeras keluar dari rumah itu.” Kata kata itu membuat emosi gadis itu memuncak begitu saja.

“Ck, ingin keluar dari rumah itu? Tentu saja.” Gumam gadis itu tersenyum sinis.

“Baiklah, berikan dia keluar dari rumah itu. Jangan biarkan dia membawa satu pun barang barang yang ada di rumah itu! Lempar dia kejalanan, dan pastikan tidak ada satupun yang membantu pelacur itu.” Perintah gadis itu dingin, membuat Hyurin yang ada di sana tanpa aba aba langsung berlari panik ke arah Hana yang tidak jauh dari tempatnya.

“Onnie aku mohon. Tolong jangan lakukan itu pada oemma ku. Ku mohon, tolong jangan usir dia dari rumah itu. Aku bersedia menjadi gantinya, asalkan kau tidak membuat oemmaku menderita. Aku mohon onnie.” Gadis itu akhirnya jatuh begitu saja sambil memeluk kaki Hana erat. Hana tersenyum sinis, kemudian menyentak kakinya dari pelukan Hyurin kasar.

“Itu belum seberapa Lee Hyurin-si. Seharusnya aku membuat ibumu mengiris nadinya sendiri di depan wajahmu supaya kau bisa merasakan bagaimana aku dulu. Ini belum seberapa di banding apa yang di lakukan oemma mu itu padaku dan juga oemmaku. Jadi jangan harap aku menarik kata kataku, karena aku akan melakukan yang lebih jahat dari pada itu.” Kata gadis itu kemudian berjalan menaiki tangga melingkar menuju kamarnya.

“Dan satu lagi. Jangan panggil aku onnie, karena aku bukan kakakmu!” desisnya cukup keras, membuat tangis Hyurin makin menjadi sambil memeluk tubuhnya sendiri. Donghae menatap iba pada Hyurin yang sedang menangis di lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri. Pria itu  tahu, semua ini belum cukup untuk membalas perbuatan perempuan itu pada keluarga nya. Tapi Hyurin sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan masalah ini. Gadis itu juga korban, korban dari keegoisan orang tuanya. Pria itu menatap sendu kearah Diera yang saat ini menatapnya seolah olah mengatakan kalau semuanya baik baik saja, dan akan baik baik saja, pria itu refleks mengangguk kemudian melihat Nyonya Kim yang sudah beranjak menghampiri adik tiri nya itu.

“Gwenchana, oemma yakin oenni mu itu akan berubah. Semuanya membutuhkan waktu Hyurin-ah. Semua akan baik baik saja selagi masih ada kasih sayang di hati.”

 

TBC

Advertisements

One thought on “^^(Lee Family) Mianhae~ (part 3/?)^^

  1. yang ditunggu tunggu akhirnya muncul juga
    whooo hana keren
    ya juga siapa yg nggx sakit hati gituin
    feel mya dapat
    dan semua nya bagus nggx ada masalah
    ditunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s