~(HyunNa Couple) Happy Ending [Sequel Hurt 2] ~

Hana POV

Orang yang selama lima tahun ini sengaja aku hindari sekarang hadir kembali dalam hidupku. Ia memintaku kembali, kerumah yang menyimpan semua kenangan buruk tentang kehidupan rumah tangga kami. Aku tidak mau, bukan karena aku membencinya atau belum bisa memaafkannya, aku bahkan sudah memaafkan semua yang ia lakukan padaku sebelum ia meminta maaf itu dariku. Aku hanya belum bisa begitu saja percaya dengan semua ucapannya. Jiwaku terlalu sakit jika teringat semua kesialan itu.

Lima tahun aku tinggal di Swiss, berharap bisa  melupakan semua yang pernah terjadi pada diriku. Tapi nihil, tidak ada artinya sama sekali. Aku hanya membohongi diriku sendiri dengan mengatakan bahwa aku sudah melupakan semua kesakitan itu, padahal hampir setiap malam aku bermimpi buruk tentang kejadian masa laluku. Aku masih sering mengelus perut datarku seolah olah anak yang pernah ada di dalam perutku ini masih ada hingga sekarang.

Tidak, aku tidak gila. Aku masih cukup waras untuk ukuran orang gila yang diharuskan tinggal dirumah sakit jiwa. Aku hanya masih belum bisa menerima kepergian anakku yang sangat aku harap harapkan. Seorang ibu tidak akan semudah itu menghilangkan kenangan tentang anak yang pernah mereka kandung, dan itulah yang terjadi padaku.

Aku mengajar di Seoul University sebagai pelatih dance untuk club modern dance yang ada disana. Dengan menyibukkan diri dengan kegiatan yang aku sukai setidaknya hal itu membuatku tidak memiliki waktu untuk teringat kembali dengan masa laluku. Tapi hari itu semuanya berubah, hari dimana aku bertemu kembali dengan seorang pria yang masih sangat aku cintai sampai saat ini.

“Noona! Kau melamun lagi?” Aku menoleh ke arah seorang namja yang lebih muda beberapa tahun dariku sedang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada. Aku bisa melihat keringat yang masih membasahi wajah dan juga lehernya. Aku tersenyum kemudian menggeleng pelan.

“Tidak Kai, aku hanya sedang merindukan seseorang,” kataku kembali menerawang jauh kedepan. Aku membayangkan jika seandainya anakku masih hidup mungkin aku tidak akan begitu kesepian walaupun ada Jinki dan Donghae oppa yang selalu ada bersamaku. Dan aku juga membayangkan jika seandainya aku tidak egois mungkin hidupku tidak akan seperti ini. Dan aku juga membayangkan jika seandainya Kyuhyun oppa menyadari segalanya sebelum aku lelah, mungkin sekarang aku akan hidup bahagia bersama anak dan suamiku. Tapi tentu saja itu semua hanya khayalanku. Semuanya tidak akan pernah menjadi nyata karena anak yang aku nantikan sudah pergi, tidak akan kembali lagi.

“Kau merindukan anakmu lagi Noona?” Tanya Kai sambil duduk di depanku. Aku tersenyum kemudian mengangguk pelan.

“Menjadi seorang ibu itu merupakan saat saat yang sangat indah bagi seorang wanita di dunia ini Jong In-ah. Membesarkan dan merawat buah cintamu bersama dengan orang yang kau cintai, melihatnya belajar berjalan, melihat nya tertawa, melihatnya dewasa, melihatnya menikah lalu memberikanmu cucu yang lucu,”

“Tetapi jika seorang ibu itu kehilangan anaknya, ia tidak akan perduli lagi dengan orang yang ada di sekitarnya. Bahkan ia memilih meninggalkan dunia ini demi menyusul anak yang ia cintai ke alam sana. Rela mengorbankan segalanya demi mendapatkan anak nya kembali, dan itu yang terjadi padaku Jong In-ah. Aku bahkan belum sempat bertemu dan merawat anakku. Bahkan ia baru berada beberapa bulan ada di dalam tubuhku, ia baru saja mulai tumbuh di dalam sana, tapi dia sudah diambil lagi oleh Tuhan. Aku tidak marah pada siapapun, aku hanya merasa kecewa dengan diriku sendiri.”

Kim Jong In atau Kai, ia adalah seorang mahasiswa tingkat 3 di bidang modern dance. Dia juga merupakan adik kelasku ketika di Swiss, jadi aku dan dia tidak terlalu canggung lagi menceritakan masalah yang tengah kami hadapi. Kai sangat mirip dengan sepupu laki lakiku Lee Taemin, adik dari Jinki. Mereka sama sama menyukai dance, musik dan juga seni. Tidak jarang aku menanyakan pendapat mereka berdua tentang tarian yang akan aku tampilkan.

Yang berbeda hanya, Taemin itu lebih cerewet di banding dengan Kai yang lebih cenderung ‘pelit’ dalam hal kosa kata. Jong In tahu semua mengenai masa laluku dari Taemin karena pada kenyataannya mereka berdua memang sahabat dekat yang lebih cocok di sebut saudara kembar, di tambah lagi dengan tingkah mereka berdua yang sama sama jahil.

“Tapi kau tahu noona? Aku yakin anakmu itu akan amat sangat kecewa jika melihat oemmanya sedih terus menerus seperti ini. Mungkin aku memang belum pernah merasakan menjadi orang tua. Tapi sebagai anak, aku akan amat sangat terluka jika melihat wanita yang sudah mengandungku selalu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan,”

“Aku tahu, memang berat melupakan anak yang selalu kau nantikan, belahan jiwamu dan juga darah dagingmu sendiri. Tapi harus sampai kapan kau menyiksa dirimu sendiri Noona-ya? Aku juga tahu kau sedang memikirkan namja brengsek itu. Tapi kau jangan membohongi dirimu sendiri dengan berkata jika kau membencinya, padahal kau jelas jelas masih mencintai pria itu. Aku memang tidak suka dan tidak akan pernah suka jika kau kembali padanya, tapi aku lebih tidak suka lagi jika kau terus berada dalam zona aman yang kau ciptakan sendiri hanya karena rasa takutmu.” Aku terdiam mencerna semua yang di katakan oleh anak yang bahkan lebih muda 5 tahun di bawahku. Ia berdiri kemudian menepuk kepalaku lembut.

“Aku selalu mendukung apapun keputusan mu Noona-ya. Tapi aku harap kau tidak jatuh lagi di lubang yang sama untuk ke dua kalinya. Aku pergi dulu!” katanya sambil berlalu pergi. Aku menundukkan kepalaku dalam lalu memejamkan mataku sesaat. Semua yang di katakan Kai tadi memang benar adanya. Aku memang terlalu takut menghadapi semuanya, aku terlalu nyaman berada di zona aman diriku sendiri. Tapi satu yang tidak anak itu tahu. Rasa kecewaku lebih besar dari rasa takutku selama ini.

~~~~~~~~~~~~~~

Lagi, aku bertemu dengan pria itu lagi. Dan kali ini aku bertemu di depan gerbang dimana di dalamnya terdapat banyak gundukan tanah yang menimbun jasad orang orang yang sudah kehabisan waktunya untuk hidup di dunia ini, dan disini jugalah anakku tinggal sekarang. Aku memang rutin seminggu atau dua minggu sekali kemari, entah itu aku akan bercerita ataupun hanya ingin mengingat bagaimana rasa nya mengandung dirinya dulu.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanyaku tanpa ada niat sama sekali berbalik untuk memandang mata kelam yang sedari dulu selalu bisa membuatku terpana akan pesonanya.

“Apa ‘dia’ di kuburkan disini?” tanyanya pelan, aku bisa merasakan suaranya bergetar ketika mengatakan kata ‘dia’. Aku tersenyum sinis kemudian berbalik dan memandang pria itu setajam yang aku bisa.

“Dia? Siapa maksud anda Tuan?” tanyaku sarkastis. Pria itu diam, bimbang dan ragu seakan berfikir berulang ulang kali apakah dia akan mengatakan kata itu atau tidak.

“Anak kita.” Katanya pada akhirnya memberanikan diri, masih dengan seringaian yang terukir di bibirku aku menatapnya angkuh.

“Anak kita? Kau yakin? Bukankah kau tidak pernah menginginkan anak itu Tuan? Lalu kenapa sekarang kau tiba tiba mengatakan kalau dia anak kita? Tidak, dia bukan anakmu tuan, dia hanya anakku!” aku hendak pergi beranjak dari tempat itu namun terhenti begitu merasa sepasang tangan kekar yang memelukku erat.

“Maaf, aku mohon maaf kan aku.” Aku merutuki diriku sendiri karena reaksi jantungku yang benar benar tidak mau mengikuti perintah otakku. Ada rasa senang, sedih dan marah yang bergumul menjadi satu ketika lengan kokoh itu mendekapku erat dan juga hangat. Suara yang dulu hanya bisa membentak dan juga tidak pernah terdengar lembut di telingaku, kini berubah. Suara itu lebih terasa menyejukkan walaupun ada nada miris, menyesal dan kesakitan disana. Aku ingin berbalik dan berkata padanya jika aku sudah memaafkannya sejak dulu, dan ingin merajut semuanya dari awal, melupakan masa lalu dan juga semua kesakitan yang aku rasakan dulu. Tetapi lagi lagi egoku menang diatas segala rasa yang aku rasakan sekarang.

Dengan kasar, aku mencengkram kuat tangan hangat yang dari dulu selalu ku impikan untuk melindungiku dan membuatku nyaman, lalu menghempaskannya begitu saja. Berbalik aku menatap mata kelam yang saat ini menatapku putus asa dengan pandangan yang aku berani bersumpah, bahkan aku sama sekali tidak pernah terfikir untuk memandang pria ini dengan tatapan mengerikan seperti saat ini.

“Kau meminta maaf pada orang yang salah Tuan, seharusnya kau tidak meminta maaf padaku. Tetapi pada jasad mungil yang terkubur damai di dalam tanah yang sekarang ada di belakangmu itu! Jasad yang ketika ia masih di dalam kandunganku kau bunuh tanpa belas kasihan melalui tangan kekasih mu yang brengsek itu!! Kau pembunuh Cho Kyuhyun kau pembunuh!!” Aku kalap, lagi lagi aku mengingat semua kejadian mengerikan itu, saat dimana aku kehilangan anak dan juga harapanku.

“Tidak Hana-ya! Aku tidak membunuh anak itu, aku sama sekali tidak tahu jika wanita licik itu yang melakukannya. Aku menyesal Hana-ya, aku menyesal sudah percaya dengan rubah betina itu. Aku mohon berikan aku kesempatan satu kali lagi Hana-ya, biarkan aku membahagiakanmu. Aku mencintaimu, aku sangat menyesal, aku benar benar sangat mencintaimu! Aku mencintaimu sejak kau mengandung anak kita, aku mencintaimu sejak kau masuk dalam hidupku, aku mencintaimu dari dulu Hana-ya, tetapi aku terlalu bodoh untuk membedakan mana cinta antara adik dan kakak dan juga cinta sepasang anak manusia.“

~~~~~~~~~~~~~~

Aku mencintaimu, aku sangat menyesal, aku benar benar sangat mencintaimu! Aku mencintaimu sejak kau mengandung anak kita, aku mencintaimu sejak kau masuk dalam hidupku, aku mencintaimu dari dulu Hana-ya, tetapi aku terlalu bodoh untuk membedakan mana cinta antara adik dan kakak dan juga cinta sepasang anak manusia.

Kata kata nya di pemakaman saat itu masih berdengung di telingaku sampai sekarang. Ini sudah satu bulan lebih sejak pertemuan kami, namun sampai saat ini dia masih belum menemuiku sama sekali. Pertanyaan pertanyaan mulai berputar di kepalaku sejak saat itu. Kenapa dia tidak pernah menjelaskan semuanya ketika itu? Kenapa dia tidak pernah mengubah sikapnya padaku? Kenapa dia begitu kejam padaku? Kenapa dia malah lebih mementingkan wanita murahan itu dari pada aku?

Aku memejamkan mataku serapat mungkin berharap semuanya menghilang seiring mataku menutup. Namun sekali lagi itu hanya harapan, buktinya aku sama sekali tidak bisa menghilangkan bayangan itu meskipun aku mencoba sekeras mungkin. Aku berjengit terkejut ketika mendengar ponsel yang sedari tadi diam tiba tiba berdering kencang. Aku mengernyit begitu melihat nomor tidak di kenal tertera di layar ponsel ku.

“Yeoboseyo?” Suara ini, aku benar benar tahu ini suara siapa, tetapi kenapa wanita ini menghubungiku larut malam begini?

“Ne, Ahjumma.” Aku mendengar helaan nafas dari ujung sana. Aku yakin wanita tua ini pasti sangat lelah sekali saat ini. Walaupun aku bukanlah menantunya lagi saat ini, tetapi aku masih sangat faham bagaimana mantan ibu mertuaku ini. Sangat miris memang, tetapi ini lah kenyataannya.

“Kau tidak memanggilku eomma lagi? Tidak apa apa, oemma paham keadaanmu. Bagaimana keadaanmu sayang? Apa kau baik baik saja?”  Aku mengangguk seiring air mata yang turun deras membasahi pipiku.

“Aku baik baik saja ahjumma, maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi menantu yang baik untukmu saat itu. Aku benar benar minta maaf untuk itu,” aku benar benar menangis terisak. Cho Ahjumma merupakan ibu kedua untukku saking dekatnya aku dan beliau sejak kecil.

“Ada apa Ahjumma menelpon malam sekali?” Tanyaku berusaha sesopan mungkin setelah hening yang cukup lama.

“Eomma ingin minta tolong sesuatu padamu sayang, bisakah? Anggap saja ini terakhir kalinya oemma memohon padamu.” Lagi lagi air mataku mengalir. Sungguh, aku sama sekali tidak pernah bermimpi jika semuanya akan menjadi sehancur ini. Hubungan ku dengan Kyuhyun oppa, hubunganku dengan Keluarga, dan juga kematian anakku.

“Bisakah kau datang kerumah sayang? Kyuhyun benar benar hilang kendali. Semenjak satu bulan yang lalu ia selalu mengamuk tidak jelas, menyiksa diri sendiri dan juga sama sekali tidak menyentuh makanan. Sekarang badannya panas, dia juga selalu menyebut namamu sayang. Eomma mohon, sekali ini. Untuk selanjutnya, jikapun kau tidak ingin bertemu eomma lagi eomma tidak akan marah sayang. Eomma mohon.”

Sejujurnya rasa itu masih ada, masih sangat nyata dan benar benar besar sampai sampai dadaku sesak di dalam sana. Aku memutuskan untuk mengalah pada egoku sendiri dan menyanggupi permintaan mantan ibu mertua ku itu, hingga disinilah aku sekarang. Dengan ragu aku menekan bel yang tersambung ke komunikator yang ada di dalam rumah itu.

“Nuguseyo?” aku tersenyum begitu mendengar suara seorang gadis yang aku anggap kakak perempuan ku sendiri.

“Lee Hana imnida.” balasku tersenyum.

“Hana? Kau Lee hana?? Sebentar!” aku sedikit terkekeh mendengar nada semangat dari Ahra onnie ketika mendengar namaku, aku merindukan nya.

Tidak lama pagar besar yang menjulang itu terbuka dan menampakkan apa yang selama ini di lindungi oleh pagar itu. Aku menatap rumah besar yang dulu sering menjadi rumah kedua untukku. Suasana di rumah ini masih sama, aku melihat ke arah ayunan yang ada di samping rumah dan langsung berhadapan dengan kebun mawar dan tulip milik Ahjumma. Aku sering bermain bersama lelaki itu di sana. Lagi lagi kenangan itu kembali menghantam kepalaku kuat, bagaimana dulu kami bermain disana, bagaimana lelaki itu sering menjahiliku, membelaku dari teman temanku yang jahil. Semuanya begitu indah dulu.

“Syukurlah kau datang Hana-ya! Aku merindukanmu!” Aku membalas pelukan kakak perempuan lelaki itu dengan tulus, karena aku tidak menyangkal jika aku memang merindukannya.

“Maafkan Kyunie Hana-ya, aku tahu aku tidak pantas mengatakan hal ini setelah apa yang dilakukannya padamu. Tapi sekarang anak itu telah berubah, dia bahkan sering menyalahkan dirinya sendiri karena kecelakaan itu. Aku mohon, tolong berikan kesempatan itu lagi padanya.” Aku bisa merasakan leherku basah karena air mata yang berasal dari gadis yang sedang kupeluk sekarang. Ahra onnie menangis, memohon untuk adiknya.

“Entahlah onnie. Aku ingin kembali seperti dulu, ingin menerimanya kembali dalam kehidupanku. Tapi entah mengapa rasanya sungguh menyakitkan onnie-ya. mengingat semua yang dia lakukan, dengan nyamannya tidur dengan kekasihnya, melihat bagaimana dia mencampakkan ku begitu saja, mengingat ia yang memintaku untuk membunuh anakku sendiri, semua itu membuat niatku hilang begitu saja.”

“Aku tidak memungkiri jika ini bukan sepenuhnya salahnya. Ini murni kesalahanku karena telah menerima perjodohan itu, dan meminta orang tuaku untuk memajukan tanggal pernikahan itu. Aku mencoba menerima semua resiko atas kesalahanku, tapi tetap saja semua tidak seperti yang aku fikirkan. Jadi aku memutuskan menyerah dan menjauh dari kehidupannya. Tapi setelah aku berusaha selama ini, hasilnya tetap tidak ada. Yang ada aku malah menjadi semakin mencintainya, tetapi terhambat oleh egoku sendiri.”

“Aku tidak berharap banyak Hana-ya, setidaknya fikirkan lah dulu.” Katanya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya mencoba mengerti jalan fikiranku.

“Ja! Oemma dan Appa sudah menunggumu di dalam.” Aku tersenyum kemudian mengangguk. Aku memasuki rumah itu dan di sambut oleh pelukan hangat Ahjumma dan Ahjushi.

“Maafkan kami Hana-ya. Kami tahu, kami benar benar tidak pantas memanggilmu kesini setelah semuanya terjadi. Kami benar benar minta maaf.” Aku tersenyum kemudian menggelengkan kepalaku ketika mendengar suara Ahjumma yang bergetar karena menahan tangis.

“Aniyo, gwenchana.” Mereka menggiringku kekamar Kyuhyun oppa yang ada di lantai dua rumah ini. Aku tersenyum begitu melewati kamar ku yang dulu ketika aku sering menginap disini.

“Masuklah, Kyuhyun di dalam. dia tidak mau makan dan juga minum sama sekali. dia dehidrasi dan dokter menyuruhnya untuk di rawat di rumah sakit. Tetapi anak itu berkeras jika ia ingin di rumah saja, jadi kami memutuskan untuk mengadakan perawatan di rumah saja.”

“Kami mohon Hana-ya, tolong suruh anak itu makan, setidaknya dia akan lebih patuh padamu. Setelah itu oemma berjanji tidak akan meminta apapun lagi darimu.”

Aku menatap pria yang sedang terlelap di kasurnya itu miris. Pria yang selama ini selalu menjadi yang terkuat dan yang terbaik kini berbaring lemah di ranjang besar miliknya, dengan selang infus yang tertancap di lengan kanannya. Aku merasakan mataku panas melihat keadaannya yang benar benar jauh dari saat aku terakhir bertemu dengannya.

“Hana-ya…” Aku bisa mendengar namaku yang keluar dari bibirnya membuat air mataku yang selalu kutahan tumpah begitu saja.

Aku mendekat dan duduk di tepi ranjang. Lalu melirik ke arah nakas yang diatasnya terdapat mangkuk yang berisi bubur abalone dan juga segelas air putih yang masih utuh tidak tersentuh sama sekali. Dadaku berdenyut perih ketika melihat tangan kirinya yang terbalut perban, wajahnya yang pucat sekarang makin pucat yang bahkan lebih mirip mayat dari pada orang yang tertidur, di matanya aku bisa melihat lingkaran hitam yang membuktikan jika dia sudah tidak tidur sejak beberapa hari ini. Tanganku terangkat begitu saja kearah lingkaran mata itu dan mengusapnya perlahan. Aku melihat mata itu bergerak gerak merasa terusik dengan gerakan tanganku hingga akhirnya aku memutuskan menyudahi kegiatanku ketika mata kelam itu terbuka dan melihat ke arahku.

“Kau datang?” lirihnya lemah. Aku tersenyum kemudian mengangguk.

“Kau tahu? Kau benar benar terlihat seperti mayat oppa.” Lirihku tersenyum lalu membelai wajahnya yang pucat.

“Maaf, maafkan aku Hana-ya, kumohon maafkan aku. Beri aku kesempatan sekali lagi, aku tidak akan mennyia – nyiakannya begitu saja. Aku akan mengulangnya lagi dari awal, aku bahkan rela bersujud di kakimu jika kau menginginkannya.” Aku tidak tahan untuk tidak memeluk laki laki yang ada di hadapanku ini.

“Aku memaafkanmu oppa, dari dulu. Tetapi egoku terlalu besar begitu juga dengan rasa kecewaku padamu. Tetapi mungkin tidak ada salahnya untuk memberimu kesempatan sekali lagi.” Aku tersenyum ketika merasakan tubuh yang kupeluk sekarang menegang, aku melepaskan pelukanku kemudian menatap matanya yang sekarnag sudah basah karena air mata yang tidak hentinya keluar dari mata itu.

“Aku memaafkanmu.” Kataku lagi dan tersenyum, senyum tulus pertama kali untuknya setelah beberapa tahun ini.

“Terimakasih Hana-ya. Terimakasih.”

~~~~~~~~

“Jadi kau sama sekali tidak menandatangani surat surat itu?” Tanyaku memecah keheningan di antara kami. Aku dan Kyuhyun oppa berbaring di ranjang besarnya dengan posisi saling memeluk. Aku berhasil memasukkan makanan kedalam perutnya yang sekarang sama sekali tidak enak di lihat karena saking kurusnya. Aku bisa merasakan pelukannya di tubuhku menguat seiring dengan kecupan hangatnya di pucuk kepalaku.

“Aku tidak pernah menandatangani surat surat itu, aku tidak tahu kenapa. Yang pasti ketika surat surat itu sampai ketanganku aku marah dan juga kecewa, lebih tepatnya marah dan kecewa pada diriku sendiri.”

“Aku merasakannya ketika kau kehilangan anak kita karena perbuatan wanita itu. Saat itu yang ada di fikiranku adalah takut kehilanganmu, tapi aku rasa aku pantas mendapatkannya, mengingat apa yang sudah pernah aku lakukan padamu dan anak kita. Tahun pertama aku mencoba untuk melupakanmu dan melepasmu dengan lapang dada, tapi semuanya sia sia. Sampai aku menyuruh anak buah ku untuk mencari tahu tentang keberadaanmu. Setelah aku menemukan keberadaanmu aku memutuskan untuk menunggu, menunggu kau kembali kemari dan aku bisa mengejarmu lagi.” Aku mengeratkan pelukanku di pinggangnya ketika rasa sakit itu lagi lagi masuk ke dalam hatiku.

“Maafkan aku, kau tahu? Aku memang bodoh karena tidak bisa membedakan gadis mana yang seharusnya aku cintai. Aku ingin mengulangnya lagi dari awal, aku ingin menjadi suami dan teman yang baik untukmu. Aku ingin memiliki anak yang keluar dari rahimmu, hanya dirimu. Maukah kau kembali kerumah Hana-ya? mengulang semuanya lagi bersamaku?” Aku menatap matanya berusaha mencari sesuatu yang salah dari sana. Tapi tidak ada, hanya ada ketulusan dan cinta disana. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Tentu saja, karena aku tidak bisa terus terusan membohongi diriku sendiri. Aku mencintaimu, dan sejauh apapun usahaku untuk melupakannya, semuanya hanya akan berakhir dengan rasa itu terus bertambah.”

Ini semua seperti mimpi, mimpi terindah yang pernah aku alami sepanjang hidupku. Aku kembali bersama dengan pria yang aku cintai. Pria yang aku inginkan menjadi ayah dari anakku. Pria yang nantinya akan melindungi, dan mencintaiku setulus hatinya. Dan kali ini, mimpi itu untuk selamanya.

THE END

Advertisements

6 thoughts on “~(HyunNa Couple) Happy Ending [Sequel Hurt 2] ~

  1. Huwa… ff’my keren bnget, bkin terharu.
    akhrmya hana mau kmbli lg k rmah. bkin crita lmjutany dong chingu. kehidupan kyu-hana stlah baikan lg.

  2. huwwaaaaaaaaaaaaaa 😥
    dari awal sampai akhir air mata keluar terus
    feel nya dapat banget
    semoga mereka semua bahagia
    dan kita semua jg selalu bahagia
    amien
    sequel tentang kebahagiaan mereka
    pokoknya keren

  3. Terharuuuu….Kyunya depresi, y kalau jadi Hana ya pasti sakit ati, untung mau balikan lagi. Bisa dilanjut ga ceritanya.
    Oya kalau mau minta PW buat ff yang di protect gmana? kalau boleh kirim PWnya ke email aku endkoi@gmail.com. Dijamin udah cukup umur banget. Makasih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s