^^(Lee Family) Give Me Heaven [Sequel Back To My Home] (2/?) ^^

Aku merenggangkan otot otoku yang kaku setelah tertidur semalaman sambil melihat pemandangan dari apartemenku yang memang tidak berada jauh dari apartement oppaku dan juga oppadeul. Ini keputusan Donghae oppa karena katanya supaya ia lebih mudah memantauku. Aish, padahal dia tahu aku ini sudah dewasa dan juga aku ini seorang agen yang tidak bisa di anggap remeh, dan dengan bermodalkan hal itu aku rasa tidak ada alasan lagi untuk kakakku yang tampan itu menyuruhku tinggal tidak jauh darinya.

“Sudah bangun?”

tanya seseorang sambil melingkarkan lengan kekarnya ke pinggangku lalu mengecupi lengkungan leherku yang terbuka.

“Cukup sadar untuk menghentikanmu agar pagi ini tidak berakhir di ranjang seperti biasanya.” lirihku menahan desahan yang bisa keluar kapan saja. Kyuhyun tergelak lalu melingkarkan tangannya di perutku.

“Aku rasa mood mu sudah kembali normal seperti semula.” Katanya berbisik di telingaku. Aku tersenyum dan mengangguk. Mood ku memang sudah kembali seperti semula. Setelah semua ancaman bom kemarin yang berakhir dengan aku turun tangan langsung menyelidiki kasus itu, di tambah gadis gadis yang selalu menempel erat di sisi kakakku dan juga pria ku.

“Hari ini aku akan terbang ke Jepang selama tiga hari untuk mempromosikan album baru kami. Aku benar benar tidak ingin meninggalkanmu sendiri.” Aku mengangkat alisku lalu menggerakkan tubuhku hendak berbalik menghadapnya. Namun tertahan oleh pelukannya yang erat.

“Tapi aku baik baik saja Kyu, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula kau sudah sering sekali pergi keluar. Kenapa kali ini kau tiba tiba bersikap seperti ini?” Aku heran, benar benar heran. Sebelumnya ia tidak pernah mengkhawatirkanku seperti ini, biasanya ia hanya akan menghubungiku lewat telpon ataupun video call untuk memastikan aku baik baik saja.

“Entahlah aku hanya merasa tigak hari itu lama. Apalagi setelah semua yang telah terjadi kemarin. Tiba tiba aku merasa tidak tenang meninggalkan mu disini dengan pekerjaanmu yang sewaktu waktu bisa merebutmu dariku. Aku tidak ingin begitu aku kembali dari Jepang aku mendengar kabar yang tidak tidak tentang mu di sana.” Katanya serius masih tetap memelukku erat. Aku tersenyum kemudian membalikkan tubuhku ke belakang dengan sedikit usaha.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku sayang, tapi tenang saja aku bisa menjaga diri dengan baik. Lagi pula aku tidak bekerja sendiri kan? Ada Diera, Hyurin dan juga Junsu yang membantuku.” Kataku berusaha membuatnya tenang.

“Tapi Hana-ya… aku..” aku mendekatkan bibirku ke bibirnya kemudian melumatnya pelan, berusaha membuatnya percaya.

“I’m fine, ok?” kataku setelah melepaskan bibir kami. Ia mengangguk masih terlihat tidak tenang.

“Baiklah, tapi sering sering menghubungiku ok? Paling tidak kirimi aku pesan. Arrachi!” aku mengangguk mantap mendengar segala nasehat yang ia katakan padaku. Ia tersenyum kemudian memelukku erat.

“Aku mencintaimu, jadi sampai aku kembali kemari jaga dirimu dengan baik ok? Aku tidak ingin melihat ada luka baru tubuhmu.” Katanya tegas, aku mengangguk.

“Aku juga mencintaimu.”

~~~~~~~~~~~

Aku sedang di bandara saat ini, aku memang sengaja mengantarkan oppaku dan juga Kyuhyun untuk berangkat ke Taiwan karena aku memang ada urusan penting di bandara.

Oppa !!! Kyuhyun oppaaaa !!” aku memutar mataku kesal mendengar teriakan mereka memanggil nama oppadeul.

“Aish! Tidak bisakah mereka itu tenang sedikit jika melihat kalian? Apa mereka tidak lelah berteriak seperti itu?!” tanyaku kesal. Donghae oppa yang berada di sampingku mengacak acak rambutku kemudian merangkulkan tangannya yang besar itu di bahuku, dan tingkah nya itu berhasil membuat semua gadis gadis yang ada di sini berteriak heboh.

“Ya! Lepaskan tanganmu dari tunanganku hyung!” seru Kyuhyun sambil menarikku agar bisa berjalan di sebelahnya.

“Ck! Kalian ini kekanakan sekali!” desisku yang akhirnya di hadiahi 2 pukulan di kepalaku.

Aku hanya mengantarkan mereka sampai di ruang tunggu, karena untuk seterusnya aku tidak akan di perbolehkan mengatar mereka lebih jauh selain itu aku juga harus segera menyelesaikan tugasku disini.

“Aku sampai disini saja, jaga diri kalian selama disana. Dan juga makan makanan yang sehat. Aku harus pergi sekarang, annyeong!” pamitku. Kemudian berjalan meninggalkan tempat ini untuk mengurus urusanku sendiri.

~~~~~~~~~~~~~

Aku mendudukkan tubuhku di sofa panjang yang ada di ruanganku. Aku sedikit memijat kepalaku yang terasa pening karena memikirkan kasus yang saat ini aku jalani, terutama beberapa fakta tentang korban selanjutnya dan hubungannya dengan kakakku. Kami sedang mencari informasi mengenai seorang penari telanjang yang di curigai pernah menjalin hubungan dengan kakakku. Dan kenyataan itu membuat kepalaku pusing dan heran di saat yang bersamaan. Kenapa kakakku bisa berhubungan dengan gadis seperti itu? Aku berdiri tiba tiba saking terkejutnya dengan teriakan Hyurin yang tiba tiba masuk ke dalam ruanganku.

“Bodoh! Kau mau membuat jantungku berhenti saat ini juga huh?” seruku kesal hampir saja memukulnya dengan buku tebal yang ada di depanku sebelum sebuah tangan kekar menghentikan gerakanku.

“Apa mau kalian datang keruanganku?” tanyaku lagi menekan keinginanku untuk memukul gadis yang lebih muda beberapa tahun dariku ini.

“Kita harus ke Jepang sekarang, aku baru saja dapat informasi jika akan di adakan pesta telanjang di sebuah club disana.” Aku mendelik tajam kearah namja yang sudah 7 tahun ini menjadi partnerku.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Katanya sedikit takut, aku mengalihkan pandangan ku ke arah lain kemudian kembali menatapnya serius.

“Orang orang yang menari telanjang di club itu salah satunya adalah gadis yang kita incar dan curigai yang menjadi calon korban berikutnya. Selain itu disana juga akan di adakan pelelangan gadis gadis yang berasal dari negara negara yang ada di Asia. Dan gadis itu masuk kedalam ‘barang’ yang akan di lelang. Aku juga menduga jika pelaku juga ada disana saat itu.” Jelas Junsu.

“Baiklah, kalian kemasi barang barang kalian. Sebelum jam 5 sore kalian sudah harus ada di lapangan terbang. Kita bertemu disana.” Kataku kemudian menghubungi seseorang yang bisa aku andalkan saat ini.

“Yeoboseyo?” sapa seorang namja yang sudah ku kenal sejak satu tahun tinggal di rumah harabojie.

“Min-ah, aku butuh pesawat sore ini. Aku akan berada di sana sebelum jam 5. Bisa kau siapkan pesawat dan juga keperluanku disana?” tanyaku cepat.

“Tentu saja!” katanya cepat, aku tersenyum kemudian menutup sambungan itu tentunya setelah berterima kasih.

~~~~~~~~~~~~~~~

Disinilah aku sekarang, di sebuah lapangan terbang pribadi milik NIS. Diera sudah ada di pesawat, dan saat ini aku sedang menunggu Junsu, dan juga Hyurin. Aku sedikit tersenyum begitu melihat seorang gadis yang lari terengah engah sambil sesekali memperbaiki ransel hitam yang ada di punggungnya.

“Onnie! Aku sudah siap! Apa Junsu oppa belum datang?” tanyanya sambil melihat kesekeliling tempat ini.

“Aku disini adik kecil!” kata seorang namja yang tiba tiba berada di belakang kami.

“Bagus, Diera juga sudah di dalam.” kataku.

“Ok, sudah semua? Ayo naik!” seru Min dari dalam pesawat yang akan kami gunakan. Kami naik kemudian duduk di tempat masing masing.

“Kemana tujuan kita sekarang?” tanya Min sambil memeriksa sistem pesawat sebelum di terbangkan.

“Jepang.” Jawabku singkat.

“Ok! Ayo berangkat!!” serunya kemudian pesawat ini terasa berjalan dan perlahan naik.

Aku membuka laptopku memeriksa ulang file file yang berhubungan dengan kasus ini berharap ada info baru yang bisa aku dapatkan. Aku memutar kursiku hingga bisa berhadapan dengan Hyurin, Diera dan juga Junsu.

“Selama tadi aku menggu kalian aku sempat mencari tahu tentang Club yang akan kita masuki itu. Akan susah untuk memasuki club itu jika tidak mempunyai kartu khusus. Intinya aku sudah menyiapkan 2 buah kartu untuk ku dan juga Junsu.”

“Mwo? Kenapa hanya untuk onnie dan Junsu oppa? Lalu untuk apa aku dan Diera onnie ikut jika aku tidak melakukan apapun?” protesnya menyela omonganku.

“Lee Hyurin-si! Kau itu masih di bawah umur! Jadi akutidak akan membiarkanmu melihat apapun yang belum pantas untuk kau lihat! Sedangkan Diera, aku rasa otak pintarnya itu lebih berguna jika ia mengawasi kondisi dari luar. Mengerti?” kataku tegas.

“Keundae onnie… ne Arraseo.” Pasrahnya setelah aku menatapnya tajam. Gadis itu hanya menggembungkan pipinya kesal. Aku tidak menggubris apapun yang anak itu lakukan, aku mengambil dua buah kartu khusus yang berbentuk kartu kredit yang tertera atas nama western ku dan Junsu.

“Kita kesana dengan penyamaran. Oppa, kau harus bisa menemukan bukti apapun yang bisa kau dapat, dan aku sangat berharap kau bisa mendapatkan target kita.

“Dan kau nona kecil! Awasi semua pergerakan kami bersama Diera, jika ada masalah segera laporkan padaku atau Junsu oppa. Kau mengerti?” sambil mengalihkan pandanganku menatap mata gadis itu. Ia mengangguk pasrah, aku tersenyum kemudian sedikit memajukan tubuhku untuk menjangkau kepalanya dan mengacak rambutnya lembut.

“Aku hanya tidak ingin kau terluka Hyurin-ah. Aku berjanji pada oemma mu untuk menjagamu, dan itu artinya kau harus menuruti apapun yang aku katakan ok?” kataku lembut. Ia menatapku berkaca kaca kemudian mengangguk pelan.

“Bagus!” kataku kemudian kembali ketempatku semula.

Aku mengambil I pod ku kemudian menghubungkan earphone ke I pod itu dan menyambungkannya ke telingaku. Ketika aku menyalakan benda itu suara orang yang aku sangat aku kenal langsung masuk ke indera pendengaranku.

~~~~~~~~~~~~

“Kita berkumpul di kamarku jam 10 malam, aku ingin semuanya sudah siap. Jadi selama 3 jam ini kalian semua bisa istirahat,” kataku yang diamini oleh anggukan kepala dari mereka berdua. Aku mengeluarkan ponselku lalu menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo, oppa! Oddiega?” tanyaku pada Donghae oppa.

“Kami di dorm, hari ini kami hanya ada kegiatan siang. Waeyo?” tanyanya.

“Aniyo, bisa kirimkan alamat kalian padaku?” tanyaku cepat.

“Untuk apa Hana-ya?” tanyanya bingung.

“Just give me Aiden.” Kataku datar. Aku benar benar harus mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada di otakku saat ini.

“Baiklah, akan aku kirimkan lewat pesan.” Aku menggumam mengerti kemudian mengganti bajuku dengan kamisol hitam dengan sweater putih dan celana pendek putih. Simple, tapi nyaman. Tak lama aku mendengar suara notifikasi dari ponselku yang menandakan ada pesan masuk. Setelah memastikan itu pesan dari kakakku, aku segera berjalan keluar dari hotelku dan menuju ketempat oppadeul berada.

Jarak hotelku dan dorm mereka tidak begitu jauh, hanya menempuh waktu 15 menit menggunakan taksi dan selama lima belas menit itu juga aku menghabiskan waktu dengan melihat lihat keramaian di daerah ini. Setelah membayar taksi sesuai argo, aku langsung melangkahkan kaki ku ke lantai dua puluh tempat dorm sementara mereka berada.

“Watashi wa tasukeru koto ga dekiru? (Ada yang bisa saya bantu?)” aku memutar bola mataku ketika mendengar suara terbata bata Hyukjae oppa.

“Aku Lee Hana, dan Hyukjae oppa? Bahasa Jepangmu benar benar kacau.” Desisku pelan, tak lama pintu terbuka dan menampakkan orang yang berbicara padaku barusan.

“Kau? Ingin menyusul Kyuhyun?” aku tersenyum kemudian menggeleng pelan dan melangkah masuk.

“Tidak oppa, aku ada misi disini dan itu membutuhkan bantuan kakakku tercinta.” desisku kesal di bagian terakhir kalimat.

“Baiklah, hanya jangan pecahkan barang barang disini. Kau bebas melakukan apapun dengan oppamu itu.” katanya yang ku jawab dengan mengangkat bahu.

Hyukjae oppa masuk kedalam dorm dan memanggil Donghae oppa keluar dari kamarnya. Aku sempat melihat oppadeul menatap heran kearahku di tambah Kyuhyun yang jelas jelas menatapku secara langsung.

“Relax boy’s! I just wanna ask something with my brother.” Seruku membuat beberapa dari mereka melanjutkan kegiatan masing masing.

“Hana, kau menyusul kemari?” tanya kakakku sambil membawaku kedalam pelukannya yang tidak akan ku tolak sama sekali.

“Aku tidak menyusulmu, aku ada misi disini dan sayangnya misi itu akan berjalan dengan baik jika kau membantuku. Dan aku rasa oppadeul juga harus mengetahui masalah ini.” kataku melirik semua member.

“Ok. Hyung, bisa kita berkumpul sebentar. Aku rasa kita punya masalah disini.” Seru Donghae oppa mengumumkan.

“Baiklah, aku rasa ini adalah shock terapi selanjutnya untuk kalian semua terutama untukmu kakakku tersayang.” Aku mengawali penjelasanku.

“Saat ini misi yang aku jalankan adalah mengenai pembunuhan berantai yang terjadi beberapa minggu ini. Ingat beberapa Trainee yang tewas dengan kondisi telanjang lengkap dengan bekas jeratan di lehernya?”

“Tepat, itu lah misi yang kami jalankan selama ini. Setelah di hubungkan, mereka semua memiliki hubungan dengan Donghae oppa secara langsung ataupun tidak.”

“Dan korban selanjutnya adalah seorang penari telanjang bernama Nami. Dan aku harus masuk kedalam sebuah club untuk menonton pertunjukan menjijikkan itu bersama Junsu oppa malam ini, dan aku benar benar berterimakasih padamu mengenai hal itu.”

“Pertanyaannya adalah, apa hubunganmu dengan penari telanjang itu? For God shake Aiden!! She is a bitch! Aku rasa oemma akan mengamuk padamu jika ia tahu mengenai hal ini.” aku benar benar frustasi mengenai fakta yang aku bicarakan saat ini.

“Itu sudah lama sekali, aku memang punya hubungan dengan gadis itu. Tapi itu ketika aku masih trainee bertahun tahun yang lalu. Dan aku benar benar menyesal untuk itu.” aku memijit kepalaku pelan mendengar jawaban dari kakakku.

“Ok, kau tidur dengannya?” tanyaku datar dan di jawab anggukan olehnya.

“Oh my God! I’m gonna be crazy because you!” desisku jengah.

“Baiklah, aku rasa aku bisa ‘mengerti keadaanmu saat itu’ karena banyak dari teman teman sebayaku yang juga melakukannya secara bebas. Tapi, aku hanya kesal karena hal ini menyebabkan aku harus bergaul dengan para pelacur itu. dan kuharap kau bisa membantuku untuk kasus ini. Aku juga berharap kau mau mengingat ingat siapa saja orang yang dekat dengan gadis itu ataupun dirimu disaat itu. Termasuk gadis yang kau pacari dan kau tiduri selama aku tidak bersamamu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” aku menyenderkan tubuhku dan kembali memijat tengkukku yang terasa berat. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Junsu oppa.

“Ini aku, kau benar oppa. Kakakku memang punya hubungan dengan gadis itu. Aku ada di dorm mereka saat ini. Siapkan semuanya. Ketika aku kembali kita sudah harus melakukannya.” Kataku kemudian memutuskan sambungan telpon.

“Aku tidak sebreksek itu Hana-ya. aku hanya meniduri tiga orang gadis selama ini.” desisnya tidak terima membuatku terkejut mendengar jumlah gadis yang yang telah di tidurinya.

“Aku harap kau memeriksakan dirimu kedokter setelah ini selesai!” kataku pelan.

“Permisi, aku rasa kalian tidak harus membicarakan masalah menjijikkan itu disini. Dan Lee Donghae-si. Aku salut padamu, kau bahkan lebih bajingan dari aku!” desis Hyukjae oppa.

“Dan oppadeul, aku harap kalian tidak terkejut jika ada berita yang menyangkut pautkan kalian dengan kasus ini. Kasus ini sudah tercium oleh media di luar sana. Dan aku rasa gadis gadis itu adalah pengalihan sementara sebelum ia mengincar target yang sesungguhnya.” Jelasku lagi. lalu berdiri dari sana dan berjalan pergi namun berhenti ketika suara Sungmin oppa yang bertanya padaku.

“Siapa target yang sesungguhnya?” lirihnya seolah berharap apa yang difikirkannya tidak akan terjadi. Aku tidak terkejut dengan pertanyaan nya, karena aku menyadari jika ia sudah tahu titik temu dari kasus ini. Terkadang oppaku yang satu ini benar benar pintar.

“Kau benar, terkadang aku berfikir jika kau bukan salah satu member idola terkenal, mungkin aku akan menyeretmu untuk ikut kedalam tim ku. Akulah target yang sebenarnya. Ingat bom waktu itu? Sekali tepuk dua lalat terbunuh. Walaupun kalian ada disana aku rasa itu tidak masalah baginya. Mengingat ada hoobae yang terus terusan dekat pada kalian di tambah aku yang benar benar di anggap pengganggu olehnya. Tapi tenang saja, aku tidak akan mati begitu saja hanya karena orang gila itu. Jadi kalian tidak usah cemas. Hanya konsentrasi pada pekerjaan kalian. Aku pergi, aku masih harus mengurus hal yang lainnya.”

“Kau juga sudah tahukan siapa pelakunya? Kenapa kau tidak langsung menangkapnya saja?” tanyanya lagi kembali menghentikan langkahku. Aku berbalik, kemudian tersenyum.

“Anggap saja aku sedang bermain dalam sebuah drama, dan aku memainkan peran ku dengan baik.”

“Hanya sebuah permainan? Kau mempermainkan nyawamu Hana-ya!”  aku tersenyum pada Sungmin oppa kemudian menggeleng pelan.

“Aku tidak bermain dengan nyawaku, hanya saja. aku sedang bermain dengan nyawa orang yang telah melibatkan orang yang aku cintai dalam permainan ini. Mereka hanya salah memilih lawan.”

~~~~~~~~~~~~

Aku meneguk wine ku dari gelas tinggi yang baru saja di sajikan oleh bartender yang ada di depanku. Acara sudah di mulai sejak setengah jam yang lalu. Aku kira hanya laki laki yang ada di club ini, tapi ternyata dugaanku salah. Aku melirik jijik pada Junsu oppa yang sedang menikmati ‘perannya’ sebagai lelaki hidung belang yang sedang meraba raba tubuh pelacur yang sedang menari telanjang di depannya. Tujuan kami selanjutnya adalah membawa Nami bersama kami dan meminta keterangan darinya.  Aku sadar pemunuh itu ada disini sekarang, tapi seperti yang aku katakan pada Sungmin oppa tadi. Aku ingin bermain main sebentar dengan si brengsek itu.

“Nikmati peranmu selagi bisa Junsu-si. Karena setelah ini aku pastikan kita tidak akan pernah mampir ke tempat seperti ini lagi.” desisku geram karena melihat pria itu sedang meremas bagian tubuh atas dari perempuan jalang itu. Aku melirik kearah wanita yang sedang duduk di sebelah kanan panggung sambil menikmati segelas minuman berwarna kuning bening. Aku tahu gadis itu menyadari aku sudah mengintai nya sejak tadi. Tapi seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku akan bermain main dulu dengan nya sebentar. Aku mengalihkan pandanganku kembali pada gadis yang menjadi incaranku malam ini. dia cantik, tubuhnya bagus dan benar benar terawat. Tapi aku yakin dia sudah berkali kali di tidur oleh banyak lelaki membuatku jijik.

“Onnie, lihat gadis di arah jam 2. Aku rasa ia memperhatikan mu dari tadi.” Kata Diera mendengung di telingaku.

“Kau benar, tidak apa. Dia hanya seorang germo, aku rasa pakaianku saat ini sudah berhasil memikatnya dan berniat menjadikanku salah satu bagian dari jalang jalang itu.” jawabku seolah olah sedang bergumam. Aku mengangkat bahu ketika wanita itu jelas jelas memperhatikan pakaian ku. Dengan gaun hitam berpotongan rendah di bagian dada serta bagian punggung yang terbuka hingga kepinggangku memperlihatkan hampir keseluruhan punggungku. Provokatif itu komentar pertama dari Junsu oppa ketika melihat dandananku saat kami masih di hotel.

“Pesta sudah selesai, aku rasa kita harus mendapatkan gadis itu sekarang. lakukan tugasmu dengan baik oppa! Aku sudah muak ada di tempat ini! Dan aku tak sabar melihat wajah kesal pembunuh itu.” desis ku lalu berbalik ke arah bartender dan memesan wine keduaku. Aku mengacuhkan suara ribut ribut orang orang yang berusaha menawar pelacur pelacur itu.

“Tawar dengan harga tinggi! Dan buat kita keluar dari tempat ini. Sekarang!” aku menyesap wine ku hingga tandas ketika suara Junsu oppa menyebutkan angka lima ratus ribu Yen untuk gadis itu. Setelah memastikan gadis itu ikut dengan Junsu oppa aku mengikuti mereka keluar. Kami mempunyai mobil masing masing saat ini. Tidak ingin membuat semua orang curiga. Aku melirik gadis yang sedari tadi mencuri pandang ke arah ku juga ikut keluar bersamaku. Ia mengikutiku. Aku mengangkat bahu lalu dengan cepat masuk kedalam mercedes hitam yang sudah kusiapkan.

Benar benar salut dengan gadis yang terang terangan mengikutiku. Tapi aku akan sedikit meladeninya saat ini. Aku memutar mobilku di sekitar jalannan sepi, berputar putar di sepanjang jalanan perbelanjaan lalu kembali memasuki jalanan sepi. Aku melirik jam di dashboard ku sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ini waktunya pulang dan aku juga ingin menemui gadis itu di dorm oppadeul dan meminta keterangannya dan juga oppaku sekaligus. Aku tidak bisa memburu gadis itu tanpa adanya bukti sama sekali, jadi bukti! Itulah yang aku incar saat ini.

“Aku di ikuti! Min, segera urus gadis itu dan buat dia menjauh dariku secepatnya!” kataku. Aku menambah kecepatan kendaraanku menjadi dua kali lipat lebih cepat dan melakukan manuver manuver tajam hingga gadis itu tertinggal cukup jauh dariku. Setelah memastikan aku sudah sedikit aman aku menekan tombol untuk menyamarkan nomor polisiku, dan mengendarakan mobilku kearah dorm oppadeul menyusul Junsu oppa dan gadis itu.

“Hyurin, Diera! Segera ke dorm oppadeul. Kita bertemu disana.”

~~~~~~~~~~~~

Aku melangkah masuk kedalam dorm oppdeul setelah memarkirkan mobilku tanpa perduli tatapan orang orang akan gaunku saat ini. Aku membenci pakaian ini tentu saja. Tetapi aku lebih benci lagi jika mengingat aku menggunakan pakaian terkutuk ini hanya karena gadis yang sekarang ada di dorm kakakku.

“Apa maksud ini semua?” aku memutar bola mataku ketika mendengar suara ‘manja’ dari gadis jalang yang ada di dalam sana.

“Tidak ada maksud apapun Nona. Hanya menyelamatkan nyawamu dari gadis psikopat yang cemburu ketika ia tahu kau pernah berhubungan dengan kakakku.” Kataku menjawab pertanyaan gadis itu begitu saja. Aku bisa melihat seluruh tatapan orang orang yang ada di ruangan ini beralih kearahku dan menatapku terkejut, terutama kakak kakakku.

“Demi Tuhan! Pakaian apa yang kau pakai?” Seru Kyuhyun dan Donghae oppa bersamaan. Aku sedikit meringis kemudian mengangkat bahuku.

“Bisa aku pinjam jaket kalian? Aku sama sekali tidak membawa baju ganti.” Kataku malu. Dengan cepat Kyuhyun berjalan dengan cepat ke ruangan yang bisa kutebak adalah kamarnya dan keluar dengan membawa sebuah jaket berwarna hitam

“Terimakasih.” Kataku dengan cepat memakai jaket yang langsung menenggelamkan tubuhku di dalamnya, lalu mengecup bibirnya lembut. Setelah cukup merasa tertutupi aku mengalihkan pandanganku pada gadis yang sekarang sedang menatap kakakku bernafsu.

“Singkirkan tatapan menjijikkan mu itu dari kakakku jalang.” Desisku kesal. Gadis itu melihat kearahku dengan tatapan remeh yang memuakkan.

“Baiklah langsung saja. Aku agen Lee dari bagian khusus NIS sekaligus Agen Angel dari FBI. Kami sedang menangani kasus pembunuhan berantai dengan korban lima orang gadis asal Korea, dan akan segera menjadi enam malam ini jika kau berhasil tertangkap oleh gadis itu.”

“Jadi langsung saja, apa yang kau ketahui dari orang orang ini?” tanyaku duduk di sebuah sofa dan melemparkan foto para korban di atas meja. Gadis itu mengambil satu foto dan aku melihat bola matanya membulat dan pupilnya melebar. Mereka semua saling mengenal.

“Kau mengenalnya?” tanyaku memastikan.

“Mereka semua rekan kerjaku saat berada di sebuah club. Saat itu aku masih berhubungan dengan kakakmu. Dan mereka semua mengetahui hubungan kami. Bahkan tidak jarang salah satu dari mereka menyediakan tempat untuk kami. Tapi mereka hanya membantu, mereka tidak ada hubungan nya dengan Donghae, mereka hanya saling mengenal, hanya sebatas itu.” jelasnya. Aku mengeluarkan sebuah foto lagi, foto gadis yang sedang menjadi incaranku saat ini.

“Kalau yang ini?” tanyaku lagi.

“Dia. Gadis ini pernah menemuiku beberapa saat lalu. Tapi aku tidak pernah mengenal gadis ini.” katanya yakin.

“Baiklah, untuk sementara kau akan berada dalam penjagaan kami. Untuk itu kau harus bekerja sama dengan kami mengenai itu. Semua kegiatanmu akan di pantau dua puluh empat jam. Dan kau akan tinggal di bawah pengawasan kami.” kataku lagi.

“Tapi aku yakin boss ku tidak akan suka dengan gagasan itu.” jelasnya muram. Aku mendesah kemudain mengeluarkan ponsel putihku.

“Ahjushi. Maukah kau menolongku?” kataku setelah mendengar suara familiar di ujung sana.

“Aku ingin ahjushi mengurus ‘pembebasan’ seorang penari telanjang di Club malam yang ada di Jepang bernama Nami. Berikan mereka uang yang mereka inginkan. Aku sangat membutuhkannya. Kumohon.” Kataku. Aku yakin Kim ahjushi sedikit tidak percaya dengan permitaanku barusan, tapi aku yakin ia akan mengabulkannya.

“Terimakasih Ahjushi.” Kataku tersenyum setelah mendengar persetujuannya.

“Kau bebas! Jadi kau bisa mengikuti apa yang aku katakan tadi. Dan uang lima ratus ribu yen akan tetap di transfer ke rekeningmu. Anggap saja aku sedang berbaik hati.”

“Hanya aku minta satu hal. Kumohon menjauh dari kakakku, aku tidak ingin kau mendekatinya lagi.” kataku kemudian berdiri.

“Hyurin, suruh orang untuk menjemput saksi dan bawa kemabali ke Seoul. Jaga dia dua puluh empat jam dan aku tidka ingin ada kesalahan untuk kasus ini. Min menghubungiku jika tersangka berhasil melarikan diri, dan aku yakin dia akan kembali untuk mengincar gadis ini, atau mengincarku. Aku tidak ingin ada korban lagi. Kau mengerti?” Hyurin menegakkan tubuhnya dan mengangkat tangannya keatas dengan posisi hormat.

“Baik ketua!” katanya lalu dengan cepat mengambil ponselnya.

“Menjauhi kakakmu? Jika aku tidak melakukannya?” katanya tersenyum menantang. Aku membalikkan tubuhku dan menatap kearahnya tajam.

“Aku sendiri yang akan menelanjangimu dan membuatmu menjadi bangkai busuk tidak berarti. Aku sudah sering bermain main dengan jalang seperti mu, dan pistolku sudah membunuh puluhan nyawa orang orang brengsek yang melawanku. Dan ku yakin kau tidak akan ingin berakhir seperti salah satu dari penjahat itu. Jadi bekerja samalah.” Desisku tajam, membuat gadis itu mengkeret takut.

“Diera, cari tahu tentang gadis ini.” kataku memberikan sebuah foto padanya.

“Kabarkan info apapun yang kau dapat. Dan Junsu! Kau tinggal disini bersama Diera sampai ada anggota yang menemput. Lalu segera pulang ke Seoul bersama Diera dan juga Hyurin. Pasti kan semua berjalan lancar. Aku akan disini mengurus sesuatu. Aku akan segera pulang setelah urusan ku selesai.”

TBC

Advertisements

3 thoughts on “^^(Lee Family) Give Me Heaven [Sequel Back To My Home] (2/?) ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s